Kawasan Palsigunung thn 1960-an masih lengang. Suasana pedesaan masih terasa kental, meski ada dua desa, yakni Areman dan Kelapa Dua, yg cukup meriah di wilayah itu. Di tempat itu ada Markas Kesatuan Resimen Pelopor dan pabrik P. T. Tranka Kabel, tepat di Jl. Raya Bogor – Jakarta. Ada tiga orang ‘tokoh’ yg menjadi cikal bakal berdirinya jemaat GKI Palsigunung. Mereka adalah Bpk. W. F. Sidjabat, yg menjadi pejabat P. T. Tranka Kabel, Bpk. Agus Rohmani yg tinggal di Markas Kompi Kavaleri, bersebelahan dng P. T. Tranka, dan Bpk. Soemartono Patriabara, pindahan dari GKJW Surabaya, yg biasa berkebaktian di GKI Jabar Gunung Sahari, Jakarta. Merekalah yg mencetuskan kerinduan untuk mengadakan kebaktian Minggu. Adapun tempat kebaktiannya berpindah-pindah di antara keluarga mereka bertiga. Ternyata, dng berkat Tuhan, orang yg hadir dalam kebaktian itu bertambah dng para karyawan dari pabrik-pabrik besar, seperti Eveready dan Meihwa, termasuk pula Bpk. Ajun Komisaris Polisi N. A. Titaley dari kesatuan Brimob.

Atas nasihat Pdt. Suradji, dihubungilah GKI Kwitang. Percakapan dng GKI Kwitang pd thn 1972 menghasilkan keputusan, bahwa kelompok Kristen Palsigunung ini dijadikan Pos Pekabaran Injil GKI Kwitang, Jakarta. Perkembangan yg menggembirakan di atas ternyata ditandingi dng sikap antipati masyarakat Palsigunung. Meskipun demikian, kelompok Kristen tersebut tdk menyurutkan semangat mereka. Hal ini nyata dng dibelinya sebidang tanah di bantaran Kali Barus seluas 220 m2, dng rumah di atasnya, yg pd masa itu dikenal sebagai ‘rumah hantu’ dng harga Rp. 375.000,-. Kini, berubahlah rumah itu menjadi ‘rumah Tuhan’, krn dihuni oleh anak-anak Tuhan yg beribadah kpd-Nya. Ternyata, masyarakat Palsigunung tdk menginginkan hal itu, sampai-sampai mereka mengirim tinja manusia ke ruangan kebaktian tersebut. Untuk mengatasi sikap yg tdk simpatik ini, Bpk. Soemartono Patriabara menempati rumah ini dan melakukan pendekatan kpd para anggota masyarakat. Lambat laun, tindakan ini membawa hasil, sehingga keluarga Bpk. Soemartono maupun anggota jemaat pd akhirnya dpt diterima oleh masyarakat. Menjelang Paskah bulan April 1974 Bpk. Soemartono mengalami kecelakaan lalu lintas. Enam bulan setelah itu, Bpk. Soemartono sembuh dari luka akibat kecelakaan dan kmd memutuskan studi di STT Jakarta pd thn 1976.

Pd periode berikutnya, status jemaat ini ditingkatkan menjadi Cabang Kwitang (istilah kini bakal jemaat) dan jemaat ini membangun jembatan bambu di atas tanah hibahan dari Ibu Lauw Sam Nio, yg menghubungkan kampung dng jalan raya. Dng tindakan ini, masyarakat makin mengenal jemaat GKI Palsigunung. Ketika dirasa telah cukup, maka didewasakanlah jemaat ini pd tanggal 17 Agustus 1979. Untuk kedua kalinya, pd thn 1981, Bpk. Soemartono mengalami kecelakaan lalu lintas yg mengganggu penglihatannya. Hal ini tdk mengurangi niatnya untuk melayani pekerjaan Tuhan. Setelah melalui tahap aplikasi di Fakultas Teologi UKDW Yogyakarta, beliau kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pd tanggal 26 Juli 1982. Selanjutnya, jemaat berhasil membeli sebidang tanah Pengarengan, yg kemudian dikenal dng nama Taman Duta. Di sanalah akhirnya sarana tempat ibadah GKI Palsigunung berdiri.

Yg akan menyapa kita dlm SG-GKI hari Kamis, 23 Des 2021 adl salah pengganti alm. Pdt.Em.Soemartono Patriabara, yaitu Pdt. Johanes Imanuel Tuwaidan, yg ditahbiskan pd tanggal 17 Oktober 1997 (menurut Pdt.Johanes sih dia ditahbiskan September 1996) (Bahan intro dari artikel Sejarah Singkat GKI Palsigunung dlm situs gkiswjateng.org, catatan Pdt.Johanes, disunting oleh Ronny N, video diedit dan diunggah oleh sdr.Sigit dr kantor Sinode GKI)
Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *