Saya Ronny Nathanael, terlahir Tjie King Tjiang. Anak dari pasutri Petrus Nathanael – Lily Liem (keduanya sdh berpulang). Dilahirkan tgl 25 Oktober 1961 sbg anak ke 7 dari 9 bersaudara. Kami bukan keluarga mampu. Papi seorang pekerja keras. Ketika di SMP mulai banyak siswa bersepeda ke sekolah, papi merakit sepeda utk kami. Beliau nyicil membeli rangka dulu, kalau ada rejeki membeli roda dst, sampai akhirnya jadilah sebuah sepeda. Mami adl seorg yg riang. Waktu kecil kami suka diceritakan cerita-cerita Alkitab dan diajari lagu rohani. Saya bersyukur kpd Tuhan bhw keterbatasan dr segi perekonomian itu diimbangi oleh kemampuan yg Tuhan anugerahkan di bidang studi.

Kalau org bertanya apa yg mendorong saya utk menjadi pendeta, saya tdk bisa menjawab dng singkat. Yg pasti sejak SD kalau anak-anak berkumpul dan saling bertanya mau jadi apa, saya selalu menjawab bhw saya mau jadi pendeta. Mungkin ada pengaruh dari paman kakek ( thiokong), suami adiknya ema, yaitu Pdt.Caleb Abednego/ Gouw Gwan Yang (alm) yg melayani di GKI Kebonjati. Setiap kenaikan kelas, mami mesti mendatangi beliau utk minta surat agar biaya sekolah bisa dikurangi. Mungkin awal keterpanggilan saya dr sana, menjadi org yg bisa menolong org lain. Oh ya, sejak TK (dulu disebut kelas nol) smp selesai SMA saya bersekolah di lingkungan BPK Jabar (skr BPK PENABUR). Ketika SMA dan sdh bisa lebih berpikir, kerinduan utk menjadi pendeta tdk hilang. Pikiran saya saat itu sederhana: betul bhw menjadi apa pun bisa melayani Tuhan, namun belum banyak yg mau melayani scr penuh waktu. Maka setelah selesai SMA pilihan saya cuma satu: lanjut ke STT. Krn tahun 1980 STT Jkt tdk membuka tahun ajaran baru maka saya dianjurkan utk mendaftar ke STTh.Duta Wacana, Yogya. Jadilah sy kuliah di STTh DW, selesai thn 1985. Dari STTh Duta Wacana Tuhan bukan cuma menganugerahkan pendidikan dan gelar kesarjanaan, tapi juga calon pasangan hidup, Florenc Dorothea Emma Wehantouw (namanya panjang tp dipanggilnya cuma Thea).

Perjalanan kependetaan diawali di Jemaat tertua di GKI Jabar, yaitu GKI Indramayu. Diteguhkan sbg Tua-tua Khusus tgl 26 Oktober 1986, tapi sebelum itu menikah dulu lah. Saya dan Thea menikah pd tgl 7 Juli 1986. Saya sungguh bersyukur utk “penolong sepadan” yg luar biasa yg Tuhan anugerahkan pd saya ini. Tgl 31 Juli 1987 lahirlah anak pertama, Kezia Agafita. Saya ditahbiskan di GKI Indramayu tgl 22 Pebruari 1988 . Thn 1989 diangkat menjadi pendeta konsulen GKI Jatibarang. Krn memang berminat di bidang organisasi gereja maka sejak msh sbg TTK saya sdh diberi kesempatan berkecimpung dlm pelayanan di BPMK Cirebon. Tgl 5 Juni 1992, Tuhan menganugerahkan anak kedua, Yosia Elyavar. Thn 1995 saya terpilih sbg Sekum Sinode GKI Jabar, tp krn sedang menyelesaikan thesis S2 di Program Pasca Sarjana UKDW maka jabatan pelayanan itu baru diemban mulai thn 1996. Lalu otomatis selama menjadi Sekum BPMSW saya juga menjadi anggota BPMS GKI ( ex officio). Setelah mengakhiri pelayanan sbg Sekum BPMSW GKI SW Jabar, saya diundang utk melayani Jemaat GKI Gading Indah. Akhirnya tgl 4 Juni 2008 saya diteguhkan ke dlm pelayanan di Jemaat GKI Gading indah dan melayani di sana smp skr. Di GKI Klasis Jakarta Timur ini Tuhan memberi kesempatan sy boleh melayani sbg Ketua Umum BPMK utk 2 periode. Selain pelayanan parokhial, yg msh Tuhan percayakan melalui gereja-Nya adl pelayanan selaku Ketua Komisi Tata Gereja GKI, dan Anggota Pembina Yayasan BPK PENABUR serta YPTK Krida Wacana. Kalau ditanya apa yg paling menyukakan hati di usia yg memasuki lansia ini, jawabannya adl main bersama Krystal dan Katelyn, kedua cucu yg Tuhan hadirkan lewat pernikahan Kezia dng Andrew menantu kami.

Saya akan menemani Anda dlm SG-GKI hari Senin, 25 Okt 2021. Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *