_*Ada yg kenal mboksu Lauw?…. Kalau pendeta A.L. Bhintarto? Yo podo uwonge.*_ Saya mengenal koh Bin ketika bersama-sama ada di Komisi Tata Gereja GKI menjelang akhir abad ke 20. Ini cerita beliau ttg dirinya: _”Saya lahir dari pasutri Lauw Swie Bing dan Liem Kiem Nio, di Gondang – Sragen pd 13 Desember 1941 dan diberi nama Lauw Bian Hoo. Pendidikan Dasar diawali dalam bahasa Mandarin sampai Kelas IV, kemudian saya pindah ke Sekolah Rakyat Kristen Tionghoa Warungmiri – Solo, 1954 – 1956. Di sinilah benih-benih keinginan melayani tumbuh di tengah keterbatasan memahami Lukas 10:2 “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit“. Lalu melanjutkan di SMP Kristen I Solo (1956-1957) kemudian pindah ke SMP Negeri Sragen (1958 – 1959) agar jarak lebih dekat. Mengikuti katekisasi di GKI Sangkrah Cabang Sragen yang diampu oleh Tosu Tan Tjioe Liang dan dibaptis di GKI Sangkrah Pos Gondang – Kedungbanteng 1 Feb 1959 oleh Boksu The Tjiauw Bian. Untuk mengikuti katekisasi itu, saya harus naik sepeda di petang hari sebab tdk ada transportasi lain dari Gondang ke Sragen yang berjarak sekiar 15 km. Tahun 1959 itu juga dng pertolongan Tosu Tan Tjioe Liang saya mendaftarkan diri masuk ke Akademi Theologia Yogyakarta, 1959 – 1965.”_ _”Lulus dari Akademi Theologia Yogyakarta, dipanggil GKI Karangsaru – Semarang untuk melayani GKI Rembang – Lasem, mulai melayani 1 Nov 1965 dan ditahbiskan 26 Juli 1966. Agar lebih dpt diterima dan lebih aman dalam pelayanan sbg Pendeta muda, maklum usia baru 24,5 tahun, Tua-tua Oey Ing Pien, diam-diam menghubungi Pdt. Tan Kiem Liong agar mendesak Boksu muda itu segera menikah. Maka pd 26 Juli 1967, satu tahun setelah penahbisan sbg pendeta, menikah dng Tan Sian Lan (Ira Iswarty) diteguhkan dan diberkati Pdt Tan Kiem Liong di GKI Karangsaru – Semarang. Sejak 1 Jan 1971 mutasi pelayanan ke GKI Pekalongan sampai memasuki emeritasi tgl 26 Juli 2003.”__”Sekalipun bukan sarjana, saya dipercaya menguji Hukum Gereja dalam Ujian Peremtoir atas diri K G Hamakonda (GKI KebayoranBaru) dan J Ch A Nenobais (GKI Cibunut) yang keduanya adalah Sarjana. Kmd, atas bantuan Dr. S. H. Widyapranawa saya berkesempatan study di Westhill College of Education-Birmingham, England (1971/1972). Untuk menambah ilmu saya mencoba kuliah di Reformed Theological College Geelong – Australia, namun karena retina mata saya bocor, saya menghentikan kuliah itu. Setelah retina dilaser, sambil tetap melakukan pelayanan saya studi di Fakultas Theologia UKSW dan memperoleh gelar “Drs” (Jangan-jangan gelar inilah, yang dikira Sarjana Ekonomi, yang menyebabkan saya diangkat sbg Bendahara I Majelis Harian GKI pd peristiwa bersatunya GKI Jatim-Jateng-Jabar, 1988). “Setelah emetitus mau apa ya?” Setelah berdiskusi dng seorang dokter, agar tdk cepat pikun saya kuliah di Sekolah Tinggi Theologia Baptis Semarang dan diwisuda dng gelar MA, 17 Oktober 2008 tepat ketika Emily Ocsilia Lucius, cucu saya kedua lahir! Tanggal 26 Juli adl tanggal yg melekat dng keluarga kami: Ditahbiskan sbg Pendeta, 26 Juli 1966, menikah 26 Juli 1967, anak pertama lahir 26 Juli 1968 dan emeritasi 26 Juli 2003.”_*Pdt.Em.A.L.Bhintarto akan menyapa kita lewat SG-GKI hari Sabtu 25 Sept 2021*. _*(Bahan intro dr catatan Pdt.Em.Bhintarto, disunting oleh Ronny Nathanael, video diedit dan diunggah oleh sdr.Sigit dr kantor Sinode GKI)*_ Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *