_Ada anekdot bhw konon org Tionghoa itu berjiwa pedagang. Ketika pekabaran injil dilakukan di daerah Jawa Barat semula sasarannya adl utk suku Sunda, tapi ternyata “kurang laku”. Malah org-org Tionghoa yg lebih banyak tertarik. Mengapa? Karena ketika sang penginjil mengatakan: “Maukah saudara menerima keselamatan?”, responsnya adl pertanyaan balik. “Berapa harganya?” Ketika dijawab: “Gratis” maka disambutlah Injil Keselamatan itu._ Tentu itu cuma anekdot. Namun kenyataannya memang dlm PI yg dilakukan para Zendeling di Jawa Barat, termasuk di Sukabumi, dicatat bgmn dng bergairah org-org Tionghoa menyambut Pemberitaan Injil. *Intro kali ini xtra panjang. Mau dibaca silakan mau dilewati ya ngga apa-apa. Bukannya sy malas mengedit, ada jg sih kalimat yg disederhanakan, tp kisahnya buat saya terlalu menarik utk dipotong.*

Masyarakat Tionghoa baru hadir di Sukabumi sesudah di daerah pegunungan di sekitar Sukabumi dibuka perkebunan teh, kopi dan karet, pd thn 1867. Saat itu pula pihak NZV mulai mengadakan peninjauan guna menjajaki kemungkinan pekabaran Injil di Sukabumi. NZV mengutus Pdt.P.N. Gisjman utk menabur ”benih” di Sukabumi. Pdt.Gisjman kmd membuka sebuah Sekolah Kristen. Usahanya kmd dilanjutkan oleh Pdt. A.Albers yg memperluas usaha  PI dng membuka sebuah balai pengobatan. Ketimbang org-org Sunda, ternyata org-org Tionghoa lebih tertarik pada Sekolah Kristen dan pelayanan pengobatan itu.

Org Tionghoa pertama yg dibaptis adl Oey Keng Tjiat. Setelah itu makin banyaklah org Tionghoa yg memberi diri dibaptis. Thn 1886 NZV membeli sebidang tanah di Cikembar, 17 km dari Kota Sukabumi. Di tempat ini di bangun desa Kristen “ Pengharapan”. Anggota Jemaat Sukabumi yg berasal dari org-org Sunda kmd di pindahkan ke desa itu.  Anggota jemaat yg terdiri dari org-org Tionghoa tetap ada di Sukabumi dan mereka dipimpin oleh seorg Penginjil bernama Matias Salim dan mereka menyewa sebuah tempat di Jl. Pelabuhan (sebelah Toko Tjeng) sebagai tempat Ibadah. Jemaat Sukabumi kmd dipimpin oleh Pdt. S. Van Eendenburg.

Tjoa Beng Jang, salah seorg di antara 5 org Tionghoa yg dibaptis oleh Pdt. S. Van Eendenburg ( bersama dng Tan Eng Sien, San Jang, Tan Ek Koan, Tan Tjoan Hian). Sdr. Tjoan  Beng Jang kmd memberikan sebidang Tanah yg terletak di jalan Raya ( sekarang Jl. Jendral A. Yani No.92/Shopping Center). Tempat Sekolah dan Ibadah kmd di pindahkan di tempat baru ini. Pada thn 1900 anggota jemaat Sukabumi berjumlah 122 org yg terdiri dari 106 org Tionghoa dan 16 org Sunda. Sejak thn 1921 Jemaat Sukabumi dilayani  oleh Pdt. A. J. Bliek. dng dibukanya Sekolah Kepolisian di Sukabumi banyak org-org Minahasa, Maluku, Timor, Jawa, Irian dll menjadi anggota Jemaat Sukabumi.

Sejak thn 1930–an Jemaat Sukabumi dilayani oleh Pdt. Van der Linden. Setelah beliau pindah ke Cirebon pelayanan dilakukan oleh Pendeta-pendeta dari Gereja Kristen Pasundan. Sesuai dng kebijakan pemerintah pada waktu itu, maka pada thn 1936 diadakan pemisahan Gereja secara administratif. Pada thn 1939 anggota Jemaat memisahkan diri, org-org Tionghoa bergabung dng Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Jawa Barat dan org-org Sunda, Minahasa, Maluku, Timor, Jawa, Irian dll bergabung dng Gereja Kristen Pasundan. Meskipun pemisahan kas Gereja baru terjadi pada thn 1950. Pd tgl 12 Februari 1939 dicapai persetujuan bersama antara Sinode Gereja Kristen Pasundan dng Sinode THKTKH Jawa  Barat  yg isinya menyetujui pemisahan antara Jemaat THKTKH dng Jemaat GKP. Sejak 5 Maret 1939 telah terbentuklah dua Jemaat. Jemaat THKTKH Jawa Barat dan GKP, tetapi masih mempergunakan satu gedung gereja sebagai tempat ibadah.

Pada tanggal 5 Maret 1939 diadakan rapat majelis Jemaat yg pertama di rumah Kel. Tjoa Eng Tjan.  Rapat dipimpin oleh Pdt. Tan Goan Tjiang dan Penginjil Tan How Siang yg adl ketua dan sekretaris BP Sinode THKTKH Jawa Barat. Pada rapat itu diangkat ketua Majelis, sekretaris, bendahara dan anggota-anggota Syamas yg terdiri dari : Tt. Tjoa Eng Tjan; Tt. Louw Thiam Tjie; Syamas Ny. Oei Goan Liong;  dan anggota-anggota Syamas Liauw Thiam Hok dan Ny. Tan Bie Nio. Sebagai Penasihat Majelis ditunjuklah Pdt. B. Arps dan Ny.  W.A. Bode.  Majelis pertama ini diteguhkan pada kebaktian Minggu 19 Maret 1939.

Pouw Boen Giok yg baru lulus dari STT Jakarta ditunjuk menjadi Gembala Jemaat pertama di THKTKH Jawa  Barat Sukabumi. Ia kmd melayani Jemaat ini dari thn 1939-1946. Dalam masa pelayanannya dibentuk pula pelayanan Sekolah Minggu dan perkumpulan pemuda bernama Tjeng Lian Hwee. Dlm periode ini seorg ibu bernama Karsini memberikan perhiasan warisannya kepada Gereja. Perhiasan itu kmd di jual  dan hasilnya dibelikan tanah dan bangunan yg terletak di Jl. Gunung Parang ( Laks. R. E. Martadinata ) namun karena tidak berhasil membebaskan tanah tersebut, maka tanah tersebut kmd diserahkan kepada Komisi Pembantu Setempat (KPS) Badan Pendidikan Kristen Jawa Barat ( sekarang berdiri TKK,SDK BPK Penabur )

Pada thn 1956  TKHTKH Jawa Barat diubah namanya menjadi Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat. Pada thn 1971–1973 Panitia Pembangunan Gedung Gereja kembali digiatkan. dng berkat dari Tuhan dan usaha keras Jemaat maka pd tgl 22 Nov 1973  Jemaat  berhasil membeli sebidang Tanah berikut bangunannya di Jl. Tarikolot No. 9 ( sekarang Jl. Zaenal Zahse no. 15 ). Di lokasi inilah berdiri gedung gereja GKI  Zaenal Zahse, Sukabumi hingga skr.

Yg akan menemani kita dlm *SG-GKI pd hari Kamis 9 Sept 2021 adl Pdt. Luther Tarlim Samara*, yg mutasi dari GKI Bintaro dan diteguhkan di GKI Zaenal Zahze pd tgl 1 Juli 2013.   _*(Bahan intro dari catatan yg diberikan Pdt.Luther, disunting sedikit oleh RN)*_
Ini tautannya: https://youtu.be/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *