GKI Sulung sdh pernah kita bicarakan bbrp kali. Skr kita akan berkenalan lebih jauh dng salah seorang pendetanya yg jg pernah menemani kita dlm SG-GKI bbrp waktu yg lalu.Namaku Bento, eh bukan denk, namaku Nathanael Channing._”Mama dari keluarga yg sudah mengenal Tuhan di Magelang. Sedangkan papa baru mengenal Tuhan melalui pernikahan dan pengalaman yg unik, setelah hijrah dari Magelang dan Gombong ke Masaran, Solo. Di Solo papa dan mama menjadi aktivis Gereja. Alm. DS. Tandio Widagdo – Tan Hok Sing, yg kita semua memanggil boksu Tan, sangat berpengaruh dalam menggembalakan keluarga kami, sebagai anggota jemaat di GKI Coyudan Solo. Kelahiran saya yg nyaris hidup itulah yg menjadi nazar papa dan mama, khususnya mama, yg berdoa kalau anak ini diberikan kesempatan hidup biarlah seluruh hidupnya menjadi seorang hamba Tuhan. Saya jg tdk tahu mengapa dari kecil sudah senang di Gereja dan aktif melayani apapun di GKI Coyudan. Jg sejak SD sudah mempunyai kerinduan untuk menjadi seorang pendeta. Ditambah figur idola masa kanak-kanak adl kakak sepupu saya alm. Pdt. Eka Dharmaputera dan Pdt. MA. Christian.”__”Saya jg tdk tahu mengapa begitu lulus SMA langsung daftar di STTh Duta Wacana. Diterima dan masuk ke asrama, sekamar dengan bapak Tumpal Tobing, yg sekarang jg sudah jadi pendeta emeritus. Sangat mengagumi pelayanan KKR yg sering dilakukan oleh Pdt. Agustinus Kermite, bersama group trionya. Jg masih sempat bertemu bapak Thiam Sien, yaitu Pdt.Em. Iman Santoso yg satu Gereja di Coyudan. Msh sempat satu asrama dengan Bapak Soewandi Tedjo, yg akhirnya jd rekan sepelayanan sampai sekarang di GKI Sulung. Teman-teman sekelas yg masih teringat a.l. Budi Marsudi, Budi Boenarto, Budianto Puspohadi dan istrinya Esther, dan bbrp yg lain. Namun kebersamaan itu hanya dalam satu semester, dan semester kedua saya kembali ke Solo…. mungkin belum siap dan masih kekanak-kanakan *(kayanya sih memang begitu) *… Tapi saya terus mendapat bimbingan dari Pdt. Rudy Budiman, yg sering ke GKI Coyudan.”__”Saya jg tdk tahu, kalau panggilan hamba Tuhan itu terus ada. Ketika papa berpulang sesaat membuat saya akan meninggalkan panggilan Tuhan. Saya jg tdk tahu, koq dapat kembali ke sekolah teologia. Bukan kembali ke STTh Duta Wacana tapi saya masuk ke SAAT Malang, sampai lulus. Dan tahun 1984 memasuki masa praktek, dilanjutkan dengan orientasi dan proses pemanggilan pendeta dengan pelayanan di GKI Sulung. Saya jg tdk tahu, pada tanggal 15 September 1988 ditahbiskan sebagai pendeta. Tuhan terus memimpin pelayanan saya, bukan cuma di jemaat GKI Sulung, saya diberi kesempatan melayani di ruang lingkup GKI Klasis Bojonegoro jg di BPMSW GKI SW Jawa Timur. Saya jg tdk tahu, Tuhan saja yg memberikan kesetiaan pada saya untuk tetap melayani di GKI Sulung sampai sekarang. Yaaa… saya tdk tahu, itu karena semua anugerah Tuhan kita Yesus Kristus yg luar biasa, yg memanggil saya sejak kecil dan yg memelihara panggilan-Nya sampai sekarang. Terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus, Allah Bapa kita dan Roh Kudus yg memelihara, menjaga, menguatkan, kita semua dari sekarang dan selama-lamanya.”_Nah dlm *SG_GKI Jumat, 18 Juni 2021 kita akan dtemani oleh “pendeta yg banyak tdk tahunya ini”, Pdt.Nathanael Channing.* _*(Bahan intro dari testimoni Pdt.Channing, diedit oleh RN)_*Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *