_Sebetoelnya sabeloem abad 20 di Ambarawa soedah dateng itoe pekabar Indjil dari Belanda. Tapi baroe taoen 1935 itoe benih toemboeh._

Yaitu ketika di rumah Ny. Kwee Kiem Tjiang diadakan persekutuan jemaat yang dipimpin oleh Sdr. Liem Giok Sing, kemudian, pada tahun 1936, datang Zuster Schiedeskamp untuk mengadakan kursus-kursus kewanitaan di kalangan para wanita Tionghoa. Ketika Zending Salatiga juga membuka Hollands Chinese School met de Bijbel, para orang Tionghoa memandang gereja atau kekristenan secara negatif, sehingga Zuster Schiedeskamp hanya mengadakan kebaktian rumah tangga saja. Baru pada tahun 1937, ada 5 orang pria yang dibaptis, disusul kemudian dengan KKR yang dipimpin oleh Pdt. Dzao Sze Kuang dari Tiongkok. KKR ini menarik banyak pengunjung Tionghoa, sehingga jumlah pengunjung kebaktian hari Minggu pun bertambah. Pada waktu itu, kebaktian diadakan pada Minggu sore dan dilayani secara bergilir oleh pekabar Injil Mittelstadt dari Salatiga, Sdr. Liem Giok Sing, Sdr. Oei Ping Hoo dan Sdr. Tjan Tong Hoo.Menjelang pendudukan Jepang, sekitar tahun 1942, jemaat dilayani oleh Guru Injil Tjoa Tjin Touw (Basilea Maruta) dari Salatiga. Syukurlah, bahwa pelayanan kebaktian tak mengalami hambatan, kendati para pekabar Injil Barat tak mungkin lagi melaksanakan tugas mereka. Pada tahun 1943 dibentuk Panitia Gereja yang diketuai oleh Pdt. Tan Ik Hay (Iskak Gunawan), dibantu oleh Bpk. Ang Liem Tjwang, Bpk. Oei Ping Hoo, Bpk. Jo Tiok Eng, masing-masing sebagai penulis, bendahara serta anggota, dan kebaktiannya dilakukan di gedung gereja Kupang. Perubahan besar terjadi terkait perang kemerdekaan Indonesia, di mana Ambarawa menjadi ajang pertempuran antara tentara Belanda dan Indonesia, yang terkenal dengan *peristiwa Palagan*. Banyak anggota jemaat yang mengungsi ke daerah lain, sehingga praktis jemaat pun bubar. Untuk sementara, pada tahun 1948, jemaat dapat terbentuk kembali dan diasuh oleh Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Mlaten Semarang. Kemudian, pengasuhan atas jemaat ini berpindah ke GKI Salatiga dan didewasakan pada tanggal 25 Agustus 1965. GKI Ambarawa yang berlokasi di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 20, memiliki jumlah anggota jemaat dan simpatisan sekitar 880 jiwa. Di masa pandemi ini, semua kegiatan gereja dilakukan secara online. GKI Ambarawa juga mengelola sekolah yang bernama Sekolah Kristen Lentera (SKL), satu lokasi dengan kompleks gedung gereja. SKL terdiri dari unit PG-TK-SD-SMP, dan merupakan metamorfosis dari Sekolah Kristen Masehi yang telah ada bersamaan dengan didewasakannya GKI Ambarawa. Kalau Anda ke Ambarawa jangan lupa nyicip Gudeg Merakmati, Tahu Serasi, Gecok Tlogo, Serabi Ngampin dkk.*SG-GKI hari Rabu 16 Juni 2021 akan dilayankan oleh Pdt.Hernadi Kurniawan*, pendeta ke 4 yg ditahbiskan di GKI Ambarawa tepat di HUT ke-50 GKI Ambarawa tahun 2015. _*(Bahan intro dari catatan Pdt.Hernadi, artikel sejarah GKI Ambarawa dlm situs gkiswjateng.org, ditata oleh RN)*_Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *