*SEPENGGAL KISAH AWAL GKI COYUDAN*Pada tahun 1933, di kota Solo berdirilah gereja yang jemaatnya mayoritas orang-orang keturunan Tiong Hwa, gereja tersebut dinamakan Kie Tok Kauw Hwee. Lokasi gereja ini terletak di pusat kota, di daerah Sangkrah (sekarang bernama jl. Demangan no.2). Selama kurang lebih 12 tahun, Kie Tok Kauw Hwee tumbuh dengan pesatnya di kota Solo, melayani Tuhan dan terus berkarya untuk menjadi saksi-Nya. Namun kurang lebih pada tahun 1944, beberapa anggota jemaat mengusulkan adanya pembaharuan di bidang pelayanan Perjamuan Kudus. Kalau selama itu layanan Perjamuan Kudus dilakukan menggunakan bbrp piala besar yg diedarkan di dlm kebaktian, pembaruan yg diusulkan adl menggunakan cawan-cawan kecil yg diterima oleh setiap anggota yg ikut perjamuan. Singkat cerita terjadilah “perpecahan”. Kelompok anggota Jemaat yg pro cawan kecil, yaitu sekitar 123 orang memutuskan untuk keluar dari Kie Tok Kauw Hwee dan membangun sebuah persekutuan baru yang bernama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee.Persekutuan ini semula meminjam gedung GKJ Joyodiningratan utk melaksanakan kebaktiannya. Tak lama kemudian pada bulan November 1945, kebaktian dapat dipindahkan ke rumah keluarga Tan Ing Tjong, di daerah Jayengan. Perselisihan tersebut akhirnya dapat diselesaikan dalam Sidang Klasis Yogya ke VIII yang diselenggarakan di kota Magelang pada tanggal 11 – 14 Maret 1947. Pada saat itu pula Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Jayengan diakui sebagai gereja cabang dari gereja asal yaitu Kie Tok Kauw Hwee Sangkrah Solo dan terus dipersiapkan pendewasaannya. _*(Ada catatan menarik dari situs gkisolo.blogspot.com, bhw berkenaan dng persoalan tsb Klasis membentuk “Komisi Perkara Penting dan Mendadak”. Keren ya namanya)*_ Akhirnya pada tanggal 24 Agustus 1948 didewasakan _*(Menurut dokumen dlm situs gkicoyudan.org, nama Jemaat ini setelah didewasakan tidak lagi disebut sebagai Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee tetapi Gereja Kristen Indonesia Jayengan. Tapi dlm situs gkiswjateng.org dikatakan “Seiring dengan keputusan Persidangan VI Sinode Gereja-gereja Kristen Tionghoa di Purwokerto pada tahun 1956, diubahlah nama THKTKH Solo menjadi GKI Coyudan Solo”. Sila diteliti lagi, tp yg pasti nama GKI di lingkungan Sinode GKI Jateng memang baru disahkan penggunaannya setelah Persidangan Sinode thn 1956)*_ Pendewasaan dan sekaligus peneguhan Majelis Gereja yang pertama dilayani oleh Pendeta The Tjiauw Bian (Johanes Purwosuwito) yg kmd menjadi pendeta konsulen. Tgl 11 November 1954 kebaktian dan kegiatan Jemaat mulai dilakukan di gedung gereja yang baru di Jl. Coyudan 105, Solo. Gedung gereja tersebut dan pastori di sampingnya merupakan persembahan dari keluarga Jo Kiem Hok _(salah seorang Penatua pertama)_. Maka ketika seluruh Jemaat di lingkungan “GKI Jateng” mulai menggunakan nama GKI, muncullah GKI Coyudan. Yg akan menemani kita dlm SG-GKI hari Sabtu, 5 Juni 2021 adl Pdt Keshia Hestikahayu Suranta dr GKI Coyudan. Alumni FT-UKDW yg dilahirkan tahun 1990 di Madiun ini bersuamikan Pdt.Ayub Sektiyanto (melayani di GKI Kertasura) dan mrk sdh dikarunai 2 org anak: Nayana dan Narendra. Ttg sejarah GKI Coyudan, Pdt Keshia mengatakan “pembentukan GKI Coyudan membuktikan bahwa Kristus adalah Kepala Gereja dan Pemersatu bagi seluruh umatNya.” _*(Intro ini bersumber dari situs gkiswjateng, situs gkicoyudan, gkisolo.blogspot, info dr Pdt.Keshia, diolah dan disajikan oleh RN)*_Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *