Dlm hidup ini ada banyak hal yg menjadi misteri. Nah hari ini kita bertemu dng sebuah misteri. Misteri asal-usul GKI Bandarlampung. Kenapa misteri? Krn masih menjadi teka-teki, blm terbuka rahasianya. Saya tdk berhasil mendapatkan info ttg sejarah Jemaat ini. Di Google mboten enten, tanya pd rekan di GKI Bandarlampung pun tdk berhasil.

Bersyukur ada senior kami, Pdt.Em.Jahja Purwanto, yg pernah melayani di GKI Metro. Beliau menginformasikan bhw yg sekarang disebut GKI Bandarlampung dulu adl Bajem dari GKI Metro. Bajem ini pd suatu waktu didewasakan _*(entah waktu itu hujan rintik-rintik, entah waktu hujan sore-sore)*_ , dan disebut GKI Tanjung Karang. Setelah kota Tanjung Karang dan Teluk Betung digabung oleh Pemda dan dinamakan Bandar Lampung, maka GKI Tanjung Karang menyesuaikan nama menjadi GKI Bandar Lampung.

Bandar Lampung adl ibu kota provinsi paling selatan di Pulau Sumatra, yaitu provinsi Lampung. Nama Lampung melekat erat dng transmigrasi. Program transmigrasi yg mencapai puncaknya pd jaman Orde Baru berhasil memindahkan jutaan org yang berasal dari Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Realitas ini ikut mewarnai keberadaan GKI Bandarlampung. Pnt.Agetta mencatat hal berikut: _Jemaat GKI Bandar Lampung didominasi oleh orang-orang yang merantau serta generasi perantau yang lahir dan besar di sini. Penghayatan diri sebagai pendatang dan orang yang berdiam di tanah asing membuat umat GKI Bandar Lampung membangun kultur yang terbuka dan “tepo sliro” atau berempati satu dengan yang lain. Kultur ini seperti menjadi perwujudan perintah Allah keda Israel, “Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing …” (Ul. 10:19). Di usia yang ke-52, GKI Bandar Lampung kini telah dianugerahi anggota jemaat berjumlah sekitar 700 jiwa. Ketika umat umumnya berpikir bahwa yang menjadi gembala dalam sebuah jemaat adalah pendetanya, GKI Bandar Lampung menyebutkan dalam visinya bahwa jemaat ini berkomitmen untuk “saling menggembalakan”. Artinya, “gembala” di sini tidak disematkan pada sosok pendeta saja, melainkan menjadi perspektif yang dimiliki setiap jiwa dalam memandang makna kehadirannya bagi sesamanya. Dalam hal faktual, GKI Bandar Lampung tidak kalah unik. Daerah kami menjadi surga bagi para pecinta kopi dan kuliner, dan pecinta pantai juga. Rasa kopi yang strong dengan wangi yang eksotik menjadi kebanggaan kami. Makanan khas di sini juga tiada duanya *(jadi Anda boleh pilih mau makan “juga”, atau “tiada” atau “duanya”)*. Kalau soal pantai tinggal pilih, mau yang cocok untuk snorkelling, canoeing, atau surfing, semuanya bisa._ _*(RN)*_

Ini tautannya:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *