_Xtra panjang krn ini Jemaat asalku, GKI tertua di kota Bdg._

Smp pertengahan abad 19, pekabaran Injil di Jawa Barat berfokus pd org-org Pasundan, bukan org Tionghoa. Sekalipun dmk mulai ada org Tionghoa di Bandung yg tertarik pd Injil. Dicatat tgl 9 Desember 1888, Thung Goan Hok, seorang Tionghoa di Bandung memberikan diri utk dibaptiskan. Peristiwa pembaptisan ini menjadi titik tolak perubahan bg masa depan Pekabaran Injil kpd orang-orang Tionghoa di Bandung. Thn 1889 Thung Goan Hok membangun sebuah rumah di jl. Gardujati 51A dan menyediakan ruangan utk pertemuan penginjilan khusus bg orang-orang Tionghoa. Thn itu juga dibaptiskan 27 orang dewasa dan anak-anak yg kelak berkembang menjadi cikal bakal Gereja Tionghoa di Bandung. Selanjutnya pekabaran Injil di Bandung mengalami perkembangan pd thn 1898, sehingga dibangunlah sebuah gedung Gereja di Jl. Kebon Jati 46 (skr 108, atau yg kita kenal dengan Gereja Kristen Pasundan). Thn 1920, setelah makin banyaknya anggota Jemaat Tionghoa di Gereja Pasundan, mulailah timbul keinginan utk membentuk jemaat sendiri. Pd bulan Maret 1924, dibentuklah Kerkeraad (Majelis Gereja) Tionghoa yg pertama. Dng bertambah banyaknya jemaat Tionghoa yg beribadah, mulai muncul kesulitan dalam pemakaian gedung gereja terutama pd acara-acara yg membutuhkan persiapan. Maka berangkat dr usul Ds. J. Iken, jemaat Tionghoa pindah ke gedung bekas rumah sakit Immanuel di jl. Kebonjati 40 (skr 100). Pemakaian gedung ibadah ini dilakukan pd tgl 25 Desember 1924. *Sekaligus menandakan berpisahnya jemaat Tionghoa dengan jemaat Pasundan di Bandung*. Bisa dikatakan dng dmk lahirlah Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (Gereja Kristen Tionghoa) Kebonjati. Pd tgl 14 Nopember 1934, Guru Jemaat Tan Goan Tjong ditahbiskan menjadi pendeta oleh NZV di Gereja Pasundan Kebonjati 108 d/h 46 utk Jemaat Tionghoa di Bandung. Peristiwa ini amat penting karena utk pertama kalinya seorang keturunan Tionghoa ditahbiskan menjadi pendeta utk Gereja Kristen Tionghoa di Bandung.

Dengan semakin bertambahnya Jemaat Tionghoa yg sdh berdiri sendiri di Jawa Barat timbullah kerinduan membentuk wadah kebersamaan yg bisa mempersatukan mereka. Mengerucut dng terbentuknya Khu Hwee / Klasis THKTKH Djawa Barat pd tgl 12 Nopember 1938 dlm persidangan pertama bertempat di THKTKH Patekoan Jakarta. Saat itu yg menjadi anggota THKTKH Khu Hwee Djawa Barat adalah: THKTKH Kebonjati Bandung, THKTKH Patekoan Jakarta, THKTKH Senen Jakarta, THKTKH Indramayu, dan THKTKH Cirebon

Dalam masa Pendudukan Jepang Pdt. Tan Goan Tjong ditahan (diinternir) oleh pemerintah Jepang di Cimahi (beliau ditahan dr tgl 19 Pebruari 1943 sampai 27 Agustus 1945. tetapi, jemaat tetap terlayani krn kurang lebih sebulan sebelum peristiwa itu, tgl 10 Januari 1943 Gouw Gwan Yang (Caleb Abednego) diangkat sebagai Guru Jemaat serta sdr. Nie Soen Seng Sdr. Soemingking dan Sdr. Liem Tik Goey sebagai tenaga pembantu. Pd tgl 1 Desember 1943, Pdt. Caleb Abednego ditahbiskan sebagai pendeta. Dlm persidangan THKTKH KHDB 29 September – 2 Oktober 1958 di Cirebon, disepakatilah perubahan nama THKTKH-KH Djawa Barat menjadi GKI Djawa Barat. Seiring dng itu THKTKH Kebonjati menjadi GKI Kebonjati spt yg kita kenal smp skr ini. SG-GKI hari Kamis 18 Feb 2021 akan dilayani oleh *Pdt.Daud Solichin* dari GKI Kebonjati. _*(diracik oleh RN dari “Sejarah GKI Kebonjati”, dlm situs gkikebonjati.org)*_

Ini tautannya:

 

https://youtu.be/fIzYOZqbYRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *