Riwayat GKI Gunung Sahari boleh dikata dimulai pd thn 1932 dengan berdirinya Anti Opium Vereeniging (Perkumpulan Anti Pemadatan _*mungkin ini cikal bakalnya BNN*_) dan WijK Verpleging (Perawatan di Wilayah _*barangkali mirip Po Chi Lam dlm film Wong Fei Hung*_) yg bertujuan menolong orang-orang yg kecanduan candu dan madat yg banyak terdapat di daerah Pasar Senen. Pelayanan itu melaksanakan pertemuan rutin yg kemudian berkembang kepd usaha pemberitaan Injil. Pertemuan-pertemuan secara teratur di lingkungan Pasar Senen ini lebih menyerupai apa yg kita sebut sekarang sebagai Persekutuan Wilayah (Kring), walaupun dlm skala lebih kecil. Kita patut bersyukur kpd Tuhan krn ternyata persekutuan yg kecil ini berkembang menjadi persekutuan yg lebih besar dlm bentuk Kebaktian dan pd 13 Mei 1937 lahirlah sebuah jemaat kecil (cikal bakal Jemaat GKI Gunsa sekarang ini) walaupun belum memiliki pendeta atau gembala jemaat. Kebaktian dilakukan dlm bahasa Indonesia (waktu itu bahasa Melayu), selain ada juga kebaktian dlm bahasa Mandarin dan Hokkian dlm rangka pendekatan kepd orang-orang yg disebut Tionghoa totok. Akan tetapi perkembangan jemaat Senen mengalami kendala pd thn 1941-1945 ketika Indonesia diduduki oleh Jepang. Pd masa ini dicatat Pdt. Tjoa Tek Swat yg juga aktif melayani jemaat Senen diinternir dan dihukum mati bersama-sama orang-orang lain oleh pemerintah militer Jepang tanpa alasan yg jelas. Puji Tuhan, hal itu kemudian berubah ketika dithn 1946 – 1950 banyak pemuda keturunan Tionghoa hijrah ke Jakarta; dan mereka banyak mengunjungi kebaktian-kebaktian di jemaat Senen. Bahkan, para pemuda bersama para wanita menjadi penggiat upaya penggalangan dana pembangunan gereja lewat bazaar serta mengumpulkan koran bekas pd 3-4 Agustus 1948 yg membuat pd akhirnya Gereja Senen memiliki tempat ibadah yg tetap hingga saat ini yaitu di Laan Kadiman No.8 (sekarang bernama jalan Gunung Sahari IV). Selanjutnya, pd 14 Oktober 1950 nama Gereja Senen dirubah menjadi “Gereja Gunung Sahari” bersamaan dengan selesainya restorasi gedung sekaligus peresmian pemakaian gedung baru sebagai tempat kebaktian. Sesuai hasil persidangan THKTKH Thay Hwee Djawa Barat thn 1958, Jemaat Gereja Gunung Sahari (Jemaat Senen) bersama-sama jemaat-jemaat lainnya di lingkungan THKTKH-TH Djawa Barat sepakat berganti nama: Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat. Sejak itulah jemaat Senen dikenal sampai saat ini sebagai GKI Gunung Sahari. Menurut Pdt. Merry Lopulalan Malau yg akan menemani kita dlm SG-GKI, Kamis 7 Jan 2021, keunikan GKI Gunsa : gereja keluarga (banyak anggota jemaat yg saling berhubungan saudara). Jumlah jemaat yg tercatat saat ini : kurang lebih 5000 jiwa _*(berarti kurang 728 kalau dibandingkan info dari BI-GKI 2020 yg mencatat jumlah 5.728)*_ _*(RN)*_

Ini tautannya: https://youtu.be/Fa-xrtzuZuQ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *