Sekitar thn 1929 di Mojokerto telah berdiam bbrp org kristen Tionghoa. Mrk berbakti bersama-sama dng saudara-saudara seiman dr De Oost Javaansche Kerk ( GKJW). Selain itu mrk itu mengadakan kebaktian rumah tangga di rumah keluarga Liem Soei Tiong. Scr teratur kelompok org kristen Tionghoa ini kerap dilayani oleh Pdt. Oei Soei Tiong. Kelompok inilah yang menjadi cikal bakal jemaat Kristen Tionghoa di Mojokerto. Pertumbuhan yang sama juga terjadi di Bangil, Mojosari dan Malang. Oleh krn itu pd thn 1932 telah terbentuk suatu Ikatan (Bond) Kristen Tionghoa yg dikenal dng nama Tiong Hwa Tok Kauw Hwee diantara mereka. Dimulai dari peresmian suatu gereja (perubahan dari sekedar perkumpulan atau ikatan ) dan satu kemajelisan yg pertama kali dari keempat kempok jemaat tersebut pada tahun 31 Juli 1932 di Malang. Kemudian disambung lagi dng keputusan membagi keempat kelompok jemaat Kristen Thionghoa tersebut menjadi Tiga Gereja Setempat yg dipersatukan selaku Klasis. Tiga Gereja Setempat itu ialah : Malang, Bangil (termasuk Surabaya, Mojokerto Mojosari, Probolinggo dan Kraksan dan Jatiroto ( sampai Besuki). Keputusan ini disahkan dlm Persidangan para utusan dari Tiga Gereja Setempat pada tanggal 28 Februari 1934 yg sekaligus merupakan peresmian berdirinya THKTKH Klasis Jawa Timur dng Majelis Besar (Tay Hwee) dari ke tujuh Gereja Setempat, yakni : Bangil; Probolinggo; Mojokerto; Mojosari; Malang; Bondowoso dan Jatiroto. Inilah Cikal Bakal dari Sinode GKI Jatim yg skr, dimana jemaat Mojokerto terhisap di dalamnya. Selanjutnya penting dicatat dua peristiwa bersejarah yg menentukan wajah kegerejaan yg dibentuk oleh jemaat-jemaat yg menyatukan diri dalam wadah HK TKH – Khu Hwee (Klasis) Jawa Timur itu. Pertama, adalah peristiwa tanggal 21 April 1954, tatkala diputuskan adanya pemisahan antara jemaat berbahasa Tionghoa dng yg berbahasa Indonesia. Jemaat Mojokerto terhisap ke dalam TKH TKH Khu Kwee Jatim Timur Bagian Bahasa Indonesia. Kedua, pd thn 1958 di Bondowoso, tatkala persidangan ke VII memutuskan bhw nama THKTKH Khu Kwee Jawa Timur berganti menjadi Gereja Kristen Indonesia Jawa Timur. dng demikian jemaat THK TKH Mojokerto pun berubah nama menjadi GKI Jatim Mojokerto. Semakin tampaklah identitas ke Indonesia yg dihayati oleh GKI Jatim. Salah satu Keunikan GKI Mojokerto memiliki dua gedung gereja di Jl. Gajahmada 116 dan Jl. Lawu Raya 2. Makanan khas Mojokerto adalah onde-onde. Tidak jauh beda dng onde-onde pada umumnya. Mungkin khas karena jumlah wijen yg genap ( _*teks pengantar ini disiapkan oleh Pdt.Samuel Dian Permana, jadi kalau ternyata jumlah wijen di onde-onde yg anda dapatkan ternyata ganjil, nah anda bisa minta satu butir wijen pd Pdt.Samuel D.P. spy genaplah apa yg dikatakannya.*_).

SG-GKI tgl 1 Jan 2021 akan dilayankan oleh Pdt. Samuel.D.P. dr GKI Mojokerto.

*Selamat Tahun Baru 2021, Tuhan Allah tetap menyertai kita semua. Teriring salam dan doa, RN*

Ini tautannya: https://youtu.be/AvI-dxqVFVA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *