Awalnya ada bbrp org muda anggota jemaat GKI Rawamangun dan GKI Kwitang yg berinisiatif membentuk persekutuan Pemuda Oikumene, dan mendirikan Sekolah Minggu Oikumene di perumahan Jatibening Indah, Bekasi. Tentu saja umat yg kmd ambil bagian dlm persekutuan ini berasal dr berbagai denominasi. Tgl 14 April 1991 atas kesepakatan MJ GKI Kwitang dng MJ GKI Rawamangun, Majelis Jemaat GKI Rawamangun dipercayakan untuk membentuk Pos Kebaktian di perumahan jatibening Indah Bekasi. Mula-mula kebaktian diselenggarakan di rumah keluarga John Ongirwalu. Tgl 15 Agustus 1993 statusnya ditingkatkan menjadi menjadi GKI Rawamangun Bakal Jemaat Jatibening Indah Bekasi. Kemudian dilembagakan pada 8 Januari 2003 menjadi GKI Jatibening Indah Bekasi, sebagai Jemaat ke-84 dari GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah dan Jemaat ke-13 bagi GKI Klasis Jakarta 1.

Kehadiran GKI Jatibening Indah di tengah-tengah perumahan Angkatan Laut dan tidak ada gereja lain di sekitarnya, membuat umat dari gereja-gereja lain memilih beribadah di GKI Jatibening Indah. Bahkan ada satu sektor gereja yang umatnya 75% memilih beribadah di GKI yang tempatnya mudah dijangkau oleh kendaraan umum. Bertambahnya umat yang beribadah tidak seimbang dengan lahan parkir yang makin sempit hingga banyak menggunakan parkir rumah-rumah penduduk. Kondisi perumahan Angkatan Laut pun berubah dengan banyaknya warga yang mulai pensiun dan pulang ke daerah masing-masing, dan masuklah komunitas garis keras yang intoleran terhadap keberadaan gereja. Pada 9 September 2007, gedung gereja GKI Jatibening Indah disegel oleh Camat Pondok Gede dan ijin beribadah tidak lagi diberikan. Sejak itu GKI Jatibening Indah beribadah dengan menumpang GKJ Bekasi pada jam 14.00 WIB. Setelah dievaluasi, umat yang beribadah meski difasilitasi dengan mobilisasi, menurun jumlahnya. Bahkan banyak simpatisan kembali beribadah di gereja masing-masing. Pada tahun September 2008, MJ GKI JBI memutuskan untuk ibadah dari rumah ke rumah di wilayah Jatibening Indah.

Bila Jemaat lain memiliki satu gedung ibadah, GKI JBI mendapat pinjaman rumah-rumah pribadi baik dari simpatisan maupun anggota jemaat, yang menjadi tempat ibadah sebanyak tujuh buah. Tempat-tempat tersebut akhirnya dikelola dan menjadi tempat ibadah GKI JBI dari minggu ke minggu. ( _*prihatin, tapi mengingatkan pada perjalanan umat Tuhan di padang belantara, pindah dari satu tempat ke tempat lain di bawah naungan kasih dan pemeliharaan Allah*_) Sedangkan gedung gereja lama, sebagian difungsikan sebagai kantor sekretariat dan pastori. Sebagian lain tetap dipertahankan untuk kebaktian komisi Pemuda di hari minggu sore dan Kebaktian Komisi Dewasa di hari Jumat serta Persekutuan Doa di hari Rabu. GKI Jatibening Indah Bekasi tentu berharap mendapat tempat ibadah yang berijin dan dapat menggunakannya secara permanen.

Nah yang akan menemani kita dlm SG-GKI hari Sabtu, 26 Des 2020 adl Wasekum BPMS GKI, yaitu Pdt. Untari Setyowati, yg bertumpu di Jemaat GKI Jatibening Indah, Bekasi. _*Beliau adl salah seorg pendeta yg punya cerita unik krn penahbisan atas dirinya sempat ditunda sebab ada keberatan yg tidak sah menurut Tager-Talak GKI, yaitu surat segel dari Camat yg mengakibatkan gedung gereja tdk bisa digunakan. Krn sdh panjang, kalau mau tahu kulineran di seputar Jatibening tanya sendiri ya pd Pdt. Untari, tapi jangan minta ditraktir sebab ngga bisa reimburse ke BPMS.*_ ( _*RN*_)

Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *