Kalau pergi ke Jalan Kayu Putih, Jakarta Timur, kita mungkin bertanya-tanya, apakah ada pohon kayu putih sehingga jalan itu dinamai demikian? Kalau ada, di mana pohon itu bisa ditemui? Nah, kalau ingin melihat seperti apa pohon kayu putih, datanglah ke GKI Kayu Putih. Anda akan menemuinya di halaman gereja. ( _*Rada ngga masuk akal sih bhw gara-gara ada sebatang pohon di halaman gedung gereja GKI Kayu Putih terus jalan besar itu diberi nama Kayu Putih. Tapi wong orang mau membanggakan gerejanya masa ngga boleh, ya sudah lah kita terima saja*_)

Mula-mula “anak” GKI Gunung Sahari ini bernama GKI A.Yani, sesuai nama jalan tempat Wisma “Pondok Sentosa” berada. Ibadah dilakukan di salah satu ruang di wisma ini. Pd saat didewasakan sbg Jemaat ke 45 GKI Jabar, yaitu tgl 8 Okt 1980, jumlah anggota jemaat 85 org dan dilayani oleh 23 org Penatua. ( _*itu catatan di situs GKI Kayu Putih, keren ya, ratio penatua dan anggota jemaat lebih kecil dari 1:4*_). Kemudian relokasi, meminjam gedung gereja GKPS Cempaka Putih. Hingga akhirnya Tuhan memberikan sebidang tanah untuk GKI Kayu Putih pada tahun 1984 di Jl. Kayu Putih Raya blok B Kav.1. Yg istimewa dlm proses pembelian tanah ini adl bhw kalau Tuhan bekerja, Dia bisa memakai siapa saja utk mewujudkan kehendak-Nya. Pemilik tanah ini bernama King (bapak King skr sdh meninggal), sorang pemeluk agama Buddha. Setelah tahu bhw tanah itu diperuntukkan bagi gedung gereja maka bpk King memberi keringanan dng mengijinkan MJ membayar scr mengangsur. Bahkan juga bisa memahami dan tdk memberi penalti ketika MJ telat membayar. Akhirnya bln Agustus 1986, jemaat mulai menempati tempat yang baru, rumah sendiri, yang dibangun atas jerih lelah sendiri. Gedung gereja dng kapasitas 500 orang. Sekarang sdh terjadi perluasan-perluasan krn anggota Jemaat tercatat sdh sebanyak 4500-an. ( _*kalau konsisten dng ratio penatua dan anggota jemaat sekitar 1:4, maka jumlah penatua hrs ada berapa yo*_). Bicara soal kuliner, GKI Kayu Putih posisinya berada di antara dua surga makanan: Kelapa Gading dan Rawamangun. Ada juga kuliner yang nikmat di dekat gereja yang tak kalah sedapnya yakni Soto Cak Yanto. “Maknyus!”, begitu kata Pdt. Yesie Irawan yg akan menemani kita dlm SG-GKI hari Rabu 9 Des 2020. ( _*yg terakhir ini hrs diuji krn sy cukup sering melayani di GKI Kaput tp blm pernah diajak makan Soto Cak Yanto*_) ( _*RN*_)

 

Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *