Pada mulanya di Purwokerto cuma ada satu GKI. Krn masih sorangan maka namanya ya GKI Purwokerto. Eh beranak, terpaksa deh ganti nama menjadi GKI Gatot Subroto Purwokerto. Tapi itu cerita lain utk lain kali. Cerita kita skr soal anaknya itu. Ketika pengunjung kebaktian di GKI Purwokerto semakin bertambah, maka dibukalah Pos Kebaktian di Tanah Garing, PurwokertoTimur, dng kebaktian pada tanggal 18 Mei 1975, pukul 06.00, bertepatan dengan Hari Pentakosta. Dalam perkembangannya MJ berhasil membeli tanah dan membangun Gedung Gereja serta Pastori di jalan Dr.Suparno. Tgl 19 Agustus 1987 ditingkatkan statusnya menjadi Bakal Jemaat Dr. Suparno, lalu didewasakan tanggal 3 September 1991 menjadi Jemaat GKI Suparno. *Tapi riwayat GKI Suparno tidak terlalu lama. Per tanggal 3 September 2008 GKI Suparno tinggal sejarah.* Lah…piye…kok ngono? Apa anggota jemaatnya habis? Oh bukan, bukan begitu. Justru karena anggota Jemaat bertambah terus maka kapasitas gedung gereja di jalan Dr.Suparno sdh tdk mencukupi lagi. Setelah proses pembangunan gedung gereja di tempat yg baru berhasil diselesaikan ( _peletakan batu pertama tgl 14 Juni 2005, batu kedua dan seterusnya tidak dicatat kapan diletakkannya_) maka tepat pada usia 17 tahun, yaitu tgl 3 September 2008, GKI Suparno menjelma menjadi GKI Martadireja Purwokerto. ( _ini kalau info yg diberikan pd saya benar_) Sekalipun jumlah anggota sekarang adl sekitar 897 org, tapi (mungkin) krn pengalaman masa lampau maka komplek gedung gereja GKI Martadireja luas banget. Kapasitas tempat duduk 1.250 orang dan area parkirnya seluas 2.000 m2. ( _Sinwil Jateng kalau mau bikin mall bisa di sini_). Nah yg menemani kita dalam SG-GKI hari Rabu, 2 Des adl Pdt. Stephanus Liem, pendeta pertama GKI Martadireja sejak jaman GKI Dr. Suparno. Ingat Purwokerto ya ingat mendoan lah. Tapi msh ada lagi yg khas, paling tidak 3 K ini: Kraca, Kluban, Klanting. ( _*RN*_)

Ini tautannya ya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *