Kalau ada Jemaat GKI yg tdk pernah mengalami kebaktian pendewasaan atau pelembagaan salah satunya adl GKI Diponegoro, Surabaya. Koq iso? Yo iso lah. Ing..inga.. catatan-catatan yang lalu, mulai riwayat GKI Sulung ( _yang ngga mau pakai Sekolahan itu_). GKI Diponegoro bersama keempat Jemaat lainnya (GKI Sulung, GKI Embong Malang, GKI Ngagel, GKI Ressud) adalah hasil dari “pengembangbiakan” G.K.I. Jatim Surabaya (lihat catatan tentang GKI Ressud, SG-GKI tanggal 26 Nov). Jadi tidak pakai Kebaktian Pendewasaan ( _rada rugi sih, sebab kalau pakai didewasakan biasanya khan suka dapat angpao dari gereja lain_).

Sebelum secara resmi terbagi menjadi lima wilayah, GKI Diponegoro telah mulai mengadakan kebaktian Minggu sejak 5 Agustus 1958 dengan meminjam gedung gereja di jalan Diponegoro 24, Surabaya (sekarang GKJW Jemaat Darmo). Kebaktian di gedung tersebut berlangsung sampai dengan 10 Juni 1973. Setelah itu GKI Diponegoro menggunakan gedung gereja di jalan Diponegoro 146, Surabaya sampai sekarang. Komplek gedung gereja inilah yang sempat menjadi salah satu sasaran pemboman beberapa gedung gereja di Surabaya pada tanggal 13 Mei 2018.

Sebagai salah satu GKI “lama dan tua” di Surabaya, maka tidak mengherankan jika domisili para anggota Jemaat GKI Diponegoro tersebar di hampir seluruh kota Surabaya serta sekitarnya seperti Sidoarjo, Gresik, Krian, dan Sepanjang. (mbuh opo isih kebaktian ning Dipo opo ora?)

Hari terakhir di bulan Nov 2020 ini kita akan ditemani oleh salah seorang pendeta GKI Diponegoro, yaitu Pdt.Josafat Kristono. ( _*RN*_)

Ini tautannya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *