Weekend Pasutri, Sabtu 28 November 2020P Dibawakan oleh pdt. Ronny Nathanael & Ibu Thea W. Dengan Tema “Cinta Ala Filosofi Gudeg” (Roma 15:1-3a)

Sharing Pasutri :

  1. Pasutri Yudhian & Bu Eka “ Cintaku di kampus biru”
  2. Pasutri Steve – Lisa

“Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan org yang tidak kuat, dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang diantara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Karena Kristus juga tidak mencari kesenanganNya sendiri….”

Jika kita bicara ttg gudeg, ada yg menarik ttg “pergudegan”. Dari buku ttg pergudegan yg menceritakan sejarah gudeg yaitu mulai ada sejak thn 1500an saat kerajaan Mataram Islam Yogjakarta. Saat itu, di sana banyak nangka muda, pohon kelapa dan mlinjo. Yg akhirnya diolah utk membuat makanan oleh para pekerja. Alat yg dipakai utk mengaduk nangka muda adalah sendok besar namanya Hangudek yg artinya mengaduk dan akhirnya dijadikan menjadi nama “gudeg”. Bahan pokok gudeg adalah nangka muda, yg kalau tdk diolah tdk enak rasanya. Melalui proses yg cukup lama dgn menggunakan santan dr kelapa maka akan menjadi makanan yg sedap apalagi dgn ditambah makanan lain (ayam, telur, krecek dĺl).

Makna Gudeg dikaitkan dengan perikop Firman Tuhan:

1. Kesabaran, karena proses yg hrs ditempuh tdk mudah. Dikaitkan dgn proses menjalani kehidupan pernikahan, tdk selalu menemukan hal yg cocok dan menyenangkan kita. Kita menemui kekurangan pasangan namun masing2 juga punya kekuatan. Yg kuat wajib menanggung kelemahan org yg tdk kuat. Teks Firman Tuhan mengingatkan kita, ketika kita mau merawat kehidupan pernikahan yg Tuhan anugerahkan, maka hrs ada kesediaan utk “give” and “take”. Masing2 bersedia memberi diri dan menanggung kelemahan pasangannya maka seperti nangka muda yg pahit dan bergetah maka akan menjadi seperti nangka yg nikmat dan gurih setelah diproses dan menjadi gudeg.

2. Jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Tdk mencari kesenangan yg menjadi orientasi diri masing2, yg kita anggap menyenangkan diri namun hrs mencari kesenangan bersama. Pribadi dlm pernikahan hrs terus bertumbuh, bukan hilang dlm proses penggodokan tsb. Masing2 hrs bertumbuh dan menjadi pribadi yg semakin baik. Kita hrs mengakui dgn jujur segala keterbatasan kita dengan tdk mengandalkan kemampuan diri sendiri.

3. Sumber kekuatan kita adalah Kristus yg tdk mencari kesenangan sendiri krn Dia selalu siap menopang dan menolong kita. Yesus Kristus adalah “Master Chef” yang mengolah nangka muda yang pahit dan bergetah menjadi makanan yg nikmat yg diibaratkan seperti gudeg yaitu supaya kehidupan pernikahan kita menjadi berkat dan memuliakan Nama Tuhan. Amin. (Herlina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *