Berawal dr adanya 7 keluarga berlatarbelakang keturunan Tionghoa yg dlm kurun waktu 1942-1949 menerima Yesus Kristus sbg Tuhan dan Juruselamat mrk, dibaptiskan dan menjadi anggota Jemaat GKJ Cipacap (16 org berstatus sidi, 4 org berstatus baptis). Lalu muncul kerinduan utk bisa diadakan kebaktian dlm bhs Indonesia krn mrk mengalami kendala mengikuti kebaktian dlm bhs Jawa (halus? versus ngapak). Gayung bersambut, thn 1950 THKTKH Purwokerto (skr GKI Gatot Subroto, Pwkt) mengutus Ds. Go Eng Tjoe utk mendampingi dan merawat persekutuan anak-anak Tuhan keturunan Tionghoa di Cilacap. Thn 1966 jumlah anggota persekutuan telah mencapai 107 orang, dan pada tahun itu pula persekutuan ini berhasil membeli sebidang tanah yg di atasnya berdiri sebuah bangunan dengan kondisi rusak akibat kebakaran (contoh entrepreneurship ex THKTKH). Tanah beserta bangunan yg dibeli di Jl. L. E. Martadinata (tempat berdirinya gedung GKI Cilacap sekarang). Awal thn 1967 tempat kebaktian berpindah dari SMP Kristen Cilacap ke gedung gereja yg baru dibangun, dng papan nama GKI Cilacap sekalipun statusnya adl Bakal Jemaat GKI Purwokerto. Didewasakan menjadi GKI Cilacap pd tgl 18 Juni 1976, dengan anggota sidi sebanyak 97 orang dan anggota baptisan sebanyak 87 orang. SG-GKI hari Selasa, 24 Nov 2020, dilayankan oleh Pdt Khonselman Radjabaycolle yg sejak thn 2004 melayani di GKI Cilacap (patut diduga pelayanan unggulan beliau adl khonseling). Menurut beliau thn 2019 tercatat anggota baptis 98 org, anggota sidi 364 org. Kalau anda ke GKI Cilacap maka akan diajak oleh Pdt.Khonselman menikmati brekecek, tempe dages, sate martawi dkk. Kalau sempat ngopi bisa ditemani gembus (katanya kalau anda bisa sekaligus menghabiskan 2 kilogram *gembus* mk anda bisa debus) ( RN)

Ini tautannya:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *