Dalam kehidupan ini ada yg lazim dan ada yg tdk lazim. Lazimnya sebuah Pos Jemaat eksis krn ada Jemaat atau bbrp Jemaat menginisiasi terbentuknya Pos Jemaat itu. Nah tdk dmk riwayat GKI Pengadilan Bogor. Bermula dari kerinduan Sinode GKI Djabar utk merintis pembukaan Pos-pos Pekabaran Injil di berbagai kota di Jawa Barat. Pdt. Drs. Eliezer Rasmindarja (1919–1992) adl salah seorg yg ditugaskan utk itu. Di kota Bogor gayung bersambut. Bbrp pendatang yg memang adl anggota GKI dari kota lain mulai menyelenggarakan persekutuan, dan tgl 11 Juni 1967 terbentuklah Pos PI yg melakukan kegiatan di Aula SD BPK Djabar KPS Bogor (skr BPK PENABUR) yg waktu itu ada di Jln. Surya Kencana 116.
Pos PI ini berkembang, maka Panitia Pos PI menjajaki proses pendewasaan. Nah smp di sini lagunya adl “Nobody’s Child”. Siapa yg akan memproses, krn Pos PI ini bukan “anak” siapa-siapa selain anak Tuhan. Maka Panitia “nekad”, (kalau istilah saya melakukan terobosan _leap of faith_ ) dng mengajukan permohonan pendewasaan langsung ke Klasis Jakarta. Ternyata disetujui. Tgl 31 Oktober 1968 didewasakan menjadi “GKI Djabar Bogor”. Seiring perkembangan jumlah anggota maka tgl 19 Juli 1970 Jemaat membeli bangunan di Jl.Pengadilan 13 utk dijadikan sarana tempat ibadah. Gereja sih tdk menyoal angka (malah mungkin krn bernomor 13 maka bangunan itu rada gampang dibeli), namun tahun 1989 Dinas Tata Kota mengubahnya menjadi nomor 35. Sekarang anggota keseluruhan sekitar 2800 orang. Hari Rabu, 4 November ini SG-GKI dilayani oleh duet Pdt. Tri Santoso dan Pdt. Esakatri. Selain terkenal karena berjubelnya “kodok hijau” alias angkot, wisata kuliner di Bogor tentu OK punya. Ada ngo hiang, toge goreng dkk, dan jangan lupa asinan Bogor yg segar itu.

Ini tautannya:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *