Nama Sidoarjo buat sebagian org susah dipisahkan dengan banjir lumpur panas. Peristiwa yg terjadi sejak tgl 29 Mei 2006 ini (dan smp skr blm tuntas) membuat org akrab dng nama lumpur Lapindo atau lumpur Sidoarjo. GKI Sidoarjo hadir 29 tahun lebih awal ketimbang lumpur Lapindo. “Anak” dari GKI Diponegoro, Surabaya ini “mentas” menjadi Jemaat dewasa pada tanggal 11 Mei 1977. Hadir dan berkarya di tengah kota santri dan kota industri tentu menjadi tantangan tersendiri. Syukur kepada Allah, dalam kehadirannya selama sekitar 43 tahun, sampai saat ini GKI Sidoarjo dpt menjadi salah satu pioner yg kuat dlm merajut kebhinekaan dengan berbagai agama. Diskusi, kerjasama pelayanan dan sekaligus merayakan hari raya agama secara bersama-sama terus digalakkan dan semakin kuat. Hingga pertengahan 2020 ini, jumlah jemaat yang tercatat sebanyak 2.520 anggota, jelas ini tanggung jawab yang besar sekaligus anugerah. *Hari ini, 2 November 2020, SG-GKI akan ditemani oleh Pdt. Yoses Rezon Suwignyo yang menjadi salah satu pendeta GKI Sidoarjo*. Makanan khas Sidoarjo selain bandeng bernasib sial krn tertangkap dan diolah menjadi bandeng presto, bandeng asap, otak-otak; msh ada sate kerang, ote-ote dkk. Untuk _dessert_ ada kue lumpur bakar yg tidak ada hubungannya dng lumpur Lapindo (tapi kalau penasaran ingin nyicipi lumpur Lapindo ya itu sih hak anda.)

Tautannya ini ya sahabat:

https://youtu.be/ZnaYj4iwwjE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *