Merayakan Hidup Berkeluarga




Oktober adalah saatnya Bulan Keluarga. Sebagian besar jemaat GKI menjadikan bulan ini sebagai waktu khusus yang diisi dengan berbagai kegiatan keluarga. Tujuannya ada- lah untuk kembali menguatkan makna hidup berkeluarga. Pada tahun ini, sekalipun pandemi Covid- 19 masih terjadi dan membuat kita belum bisa bertemu secara langsung, namun Bulan Keluarga tetap kita jalankan. Berbagai acara didesain oleh panitia menyesuaikan dengan keadaan, dengan kesadaran bahwa justru di masa inilah, kehidupan keluarga perlu diperkuat.
Tema tahun ini adalah: “Keluarga Sehat dan Bahagia di Masa Pandemi”.

Kebiasaan mengadakan acara keluarga, tentu bukan hanya di GKI. Di berbagai gereja dan organisasi lain, acara keluarga pun ada dalam berbagai bentuk. Misalnya acara Family Day yang diadakan oleh kantor-kantor tertentu, dengan tujuan untuk mempererat relasi antar keluarga karyawan. Di musim liburan, di berbagai tempat liburan, kita dengan mudahnya menemukan kegiatan kantor yang melibatkan keluarga, entah lomba atau kebersamaan. Bahkan, sebenarnya Indonesia memiliki tanggal khusus untuk merayakan keluarga, yaitu tanggal 29 Juni. Tanggal 29 Juni adalah Hari Keluarga Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah untuk mendukung kebersamaan keluarga dan kemudian hari, program keluarga berencana. Sejarah penetapan Hari Keluarga Nasional ini kembali ke masa tahun 1949. Dilansir dari dalam tirto.id, pada 22 Juni 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia secara utuh, di mana seminggu kemudian para tentara Republik Indonesia yang telah bergerilya dalam perjuangan melawan Belanda masuk ke Yogya, kembali pulang ke keluarga masing-masing. Maka, suasana kembali kepada keluarga itulah yang menjadi cikal-bakal penetapan 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional. Sayangnya, perayaan 29 Juni ini sepertinya belum terlalu dikenal di masyarakat luas. Namun, kita dapat memahami bahwa merayakan hari untuk keluarga, bukan hanya urusan gereja, melainkan seluruh lapisan masyarakat.

Keluarga adalah bagian hidup penting dan mendasar bagi manusia, karena itu kita memerlukan momen khusus untuk merenung mengenai berharganya keluarga yang kita miliki. Sehingga hidup berkeluarga bukan hanya berjalan karena kita terbiasa, melainkan ada berbagai perbaikan untuk hal yang salah, penguatan untuk hal yang lemah, peningkatan dalam berbagai hal. Dengan demikian, hidup berkeluarga dapat senantiasa upgrade. Pengkhotbah 10:18 menyatakan: Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah. Maksudnya, jika kita tidak bertindak untuk memperbaiki keluarga kita, maka keluarga kita bisa hancur. Kita tidak bisa hanya berdiam diri saja ketika melihat sesuatu yang salah dalam keluarga kita. Kita perlu bertindak untuk mencegah kehancuran. Bagaimana jika rumah sudah bagus dan baik? Maka tentu perlu memeriksa berbagai sudut untuk diperindah atau diubah untuk membuat suasana menjadi lebih segar dan menyenangkan, cukup cahaya dan udara. Di situlah, makna upgrade berlaku.

Tahun lalu, Barna melakukan survei global terhadap kaum milenial (usia 18 -35 tahun). Survei ini melibatkan 25 negara dengan jumlah responde lebih dari 15 ribu orang. Salah satu hasil survei tersebut menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara gambaran tentang keluarga dengan kehidupan spiritual. Mereka yang menjalankan hidup Kristen, memiliki persentase lebih besar untuk fokus pada keluarga dan pernikahan dalam 10 tahun ke depan, dibandingkan dengan yang mereka yang tidak menjalankan hidup Kristen (sekalipun beragama Kristen, serta mereka yang beragama lain). Ketika hidup kekristenan seseorang semakin baik, maka semakin memiliki impian untuk hidup rumah tangga. Ini semua yang menarik dan tentu perlu dipelajari lebih lanjut.

Untuk langkah awal, maka hal ini menjadi pengingat kepada kita bahwa generasi muda memerlukan teladan dan penguatan untuk menjalankan hidup mereka sebagai keluarga-keluarga baru suatu hari kelak. Dan gereja memiliki peran yang penting untuk melakukan upaya itu.

Kegiatan Bulan Keluarga bukan sekadar selingan kegiatan di antara padatnya kegiatan gereja. Melainkan menjadi momen penting untuk memberi penguatan terhadap makna berkeluarga. Berkeluarga dalam arti setiap relasi yang kita miliki dengan anggota keluarga kita yang lainnya: orangtu-anak, kakak-adik, suami-istri, mertua-menantu, besan-ipar, dan lainnya. Hidup kita bersama keluarga adalah hidup yang berharga. Seperti apapun keadan keluarga kita, keluarga adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Anugerah itu patut kita jaga sebaik-baiknya, agar tidak menjadi rusak. Amsal 11:29 memberikan nasihat: “Siapa yang mengacaukan rumah tangganya akan menangkap angin; orang bodoh akan menjadi budak orang bijak.” Menangkap angin adalah kegiatan kosong yang tak menghasilkan apapun. Demikianlah ketika kita merusak hubungan dengan keluarga, konflik berkepanjangan, dendam yang memisahkan. Semua itu akan membuat kita justru mengalami kekosongan. Dalam situasi pandemi saat ini, merayakan hidup yang bahagia dan sehat bersama keluarga, menghargai setiap momen yang ada, saling menjaga satu sama lain, menjadi prioritas kita dalam hidup ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post