Perjamuan Kudus Online




Lukas 22:14-20 bercerita tentang Tuhan Yesus yang berkumpul dengan para rasul (murid) dalam sebuah perjamuan. Itu adalah malam terakhir, sebelum kisah Injil menceritakan via dolorosa yang akan dialami Yesus esok harinya. Di saat perjamuan itu, Yesus makan Paskah bersama bersama para murid. Dikatakan bahwa Yesus mengambil Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu…”
(ayat 17-19). ‘Mengingat’ adalah perintah yang Tuhan Yesus berikan. Perjamuan di malam hari itu, bukan sekadar menjadi hari makan bersama, namun menjadi hari momentum, bersejarah, penting, yang harus diingat, dikenang, oleh para murid dan kemudian oleh gereja.

Gereja merayakan Perjamuan Kudus sebagai satu dari dua sakramen, yaitu peristiwa atau perbuatan kudus, yang diperintahkan langsung oleh Tuhan Yesus. Menjadi materai orang percaya. Dalam Perjamuan Kudus, maka unsur ‘mengingat’ atau mengenang (anamnesis) menjadi penting. Kita mengingat karya keselamatan Allah bagi dunia, melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Tubuh dan darah Kristus yang telah diserahkan bagi keselamatan dunia, disimbolkan dengan roti dan anggur yang kita pakai dalam Perjamuan Kudus. Karya keselamatan itu yang mengampuni dan memulihkan kehidupan dunia ini. Memulihkan relasi antara manusia dengan Allah, dan manusia dengan sesamanya. Karena itu, dalam Sakramen Perjamuan Kudus, ada kalimat di tata ibadah yang berbunyi:

Agar perjamuan ini sungguh-sungguh menjadi berkat bagi kita, maka selayaknyalah kita memeriksa diri kita masing-masing di hadapan Tuhan:

  1. Apakah kita hidup dalam damai dengan Allah?
  2. Apakah kita hidup dalam damai dengan sesama kita, dengan istri atau suami, dengan orang tua atau anak, dengan saudara-saudara, dengan teman dan tetangga, dan dengan siapapun yang kita jumpai dalam kehidupan kita?

Ajakan tersebut merupakan ajakan pemeriksaan diri (sensuramorum). Tujuannya tentu bukan untuk menghakimi diri sendiri (apalagi orang lain), melainkan untuk mengevaluasi diri dalam sebuah komitmen perbaikan dan peningkatan diri di hadapan Allah. Jika kita mendapati hal-hal yang belum sempurna, dan kita berdosa, maka bukan berarti kita menjauh dari Allah dan mengundurkan diri dari Perjamuan. Melainkan kita dipanggil untuk berkomitmen mengusahakan hidup yang sempurna di hadapan Allah dan memulihkan sesama. Perjamuan Kudus menjadi kesempatan untuk kita kembali menyatakan komitmen hidup beriman kita di hadapan Allah dan sesama. Karena itu, poin pemeriksaan diri terdiri dari 2 hal: hubungan dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan dengan sesama (horizontal) yang penuh kedamaian. Hidup damai dengan keluarga menjadi salah satu pemeriksaan diri yang kita lakukan. Bagaimana hubungan antara suami dan istri dijalankan? Bagaimana hubungan antara orang tua dan anak kita jalankan? Bagaimana hubungan dengan saudara-saudara juga kita jalankan? Keluarga adalah ‘sesama’ terdekat kita, yang di dalamnya berbagai hal dapat terjadi, termasuk kesalahan satu dengan yang lainnya. Perjamuan Kudus, adalah perayaan keselamatan hidup di dalam Tuhan.

Hari ini, GKI Gading Indah dalam Kebaktian Minggu Online (KMOL) menjalankan Sakramen Perjamuan Kudus. Perjamuan ini akan memberikan kesan dan suasana yang berbeda dibandingkan dengan Perjamuan saat di gedung gereja. Ada hal yang mungkin terasa menjadi kurang lengkap, misalnya suasana syahdu ibadah di gereja, instrumen musik yang membangun penghayatan, terutama pelayanan pembagian roti dan anggur yang secara langsung dilakukan oleh para penatua kepada umat. Dalam Perjamuan Kudus online ini, roti dan anggur akan menggunakan roti dan anggur masing-masing dari rumah umat. (Video Panduan Sakramen Perjamuan Kudus dapat dilihat dalam Channel YouTube GIFT, atau dapat ditanyakan kepada Majelis Jemaat sehingga kita dapat mempersiapkan dan merayakan Perjamuan Kudus dengan baik). Dalam Perjamuan Kudus online ini, kita sendiri yang akan mengambil roti dan anggur untuk diri kita masing-masing, atau untuk keluarga dan orang yang beribadah bersama dengan kita. Sekalipun demikian, kita penghayati bahwa iman kita tidak terpaku kepada roti dan anggur secara materi, namun kepada tubuh dan darah Kristus yang telah diserahkan dan dicurahkan untuk keselamatan dunia. Roti dan anggur yang kita gunakan masing-masing dapat berbeda, namun penghayatan kita kiranya sama-sama mengarah kepada karya keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada setiap kita.

Perjamuan Kudus Online ini tidak akan menggantikan Perjamuan Kudus di gedung gereja, ketika kita nanti telah dapat beribadah kembali secara bersama-sama. Sampai saat itu tiba, mari terus berdoa agar pandemi Covid-19 ini dapat berlalu, serta mengerjakan setiap hal baik yang Allah percayakan kepada kita.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:8-10). VT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post