DI ANTARA PARA SAHABAT (6)




Pemilu

Hari pemilihan umum di Amerika Serikat sudah semakin mendekat. Saya jadi teringat ketika seorang teman Indonesia di San Francisco – dia sudah jadi WNA, warga negara Amerika Serikat – mengadakan kegiatan untuk kampanye pemilihan gubernur di sana. Saya bertanya, “Oh, Demokrat ya?” “Bukan,” jawabnya. “Saya Republikan.”
Saya berasumsi, orang-orang Indonesia tentu memilih Demokrat sebab rasanya kebijakan- kebijakan Partai Demokrat lebih kena buat orang-orang asing, termasuk orang Indonesia.

Saya teringat — kalau tidak salah sekitar tahun 1985 — saat saya masih kuliah di FISIP-UI. Hari itu ada kuliah umum yang diadakan di kampus kami. Pembicaranya adalah Paul Wolfowitz, seorang tokoh Republik yang kebetulan menjadi duta besar AS di Jakarta. Dia fasih berbicara dalam bahasa Indonesia.
Dia berbicara tentang rencana AS menyangkut perdamaian dunia. Saya ingin sekali bertanya saat itu, kok bicaranya perdamaian dunia, tapi kenyataannya, Amerika selalu meningkatkan perang. Apalagi saat negara itu dipimpin oleh presiden dari Partai Republik? Contohnya Perang Vietnam, yang dimulai oleh Eisenhower, dan memuncak di masa Richard Nixon. Perang Teluk I, oleh George Bush, Sr., dan Perang Teluk II, yang menyebar ke Afganistan, Irak, Suriah, dsb., di bawah George Bush, Jr. Itu semua adalah presiden-presiden dari Partai Republik.

Ternyata kalau saya perhatikan memang banyak orang Indonesia yang lebih tertarik dengan Partai Republik daripada Partai Demokrat. Saya teringat salah seorang teman saya orang Indonesia yang mengatakan, “Saya siap nih berangkat ke Irak, kalau diizinkan.”
Wah, ngawur sekali. Tapi kalau dia benar-benar mau ikut berperang sebetulnya bisa saja. Amerika Serikat tidak peduli, sekalipun ada orang asing yang ikut berperang untuk negara itu. Malah cara ini banyak dilakukan oleh para imigran, termasuk mereka yang tidak memiliki surat-surat resmi untuk masuk ke negara itu. Nanti kalau sudah pulang, mereka bisa mengklaim langsung kewarganegaraan Amerika Serikat. Ini jalan yang banyak ditempuh oleh para imigran yang ingin melakukan jalan pintas untuk mendapatkan kewarganegaran, dengan catatan bisa pulang dengan selamat.

Partai Republik memiliki agenda menciptakan pemerintahan kecil, mengatur pengeluran negara yang kecil, agar rakyat lebih bisa menikmati hasil pajak mereka, dan membiarkan orang-orang miskin berjuang untuk berhasil. Mereka sangat mengagung-agungkan orang-orang yang bisa membuktikan diri mereka from zero to hero. Di banyak siaran televisi kita bisa menyaksikan siaran-siaran film seperti ini. Tetapi benarkah ada orang yang bisa berjuang sendirian, from zero to hero? Pada kenyataannya, pemerintahan Partai Republik seringkali justru sangat boros dengan biaya perang dan pemotongan pajak untuk orang-orang kaya.
Sebaliknya, Partai Demokrat sering sekali berusaha memberikan bantuan kepada orang miskin, kaum difabel, dan sebagainya. Karena itu seringkali mereka dituduh justru mendorong orang untuk hidup dalam ketergantungan. Orang bisa keenakan hidup dengan kupon makanan yang disediakan pemerintah setiap bulan.

Kenyataannya memang banyak sekali orang yang membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa mencapai sukses. Sangat jarang ada orang yang bisa mencapai sukses dengan tenaganya sendiri.
Itulah sebabnya di banyak bidang pendidikan di AS kita bisa menemukan ada banyak sekali bantuan yang tersedia untuk memungkinkan seseorang bisa mencapai cita-citanya yang tinggi. Atau ada juga orang-orang yang selalu mau membantu sesamanya untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Saya telah memberikan contoh-contoh ini dalam cerita-cerita saya yang lalu.
Juga suatu kenyataan bahwa ada orang yang memang mau enaknya saja, hidup hanya dengan mengandalkan bantuan pemerintah. Saya pernah menceritakan kisah seperti ini dalam beberapa tulisan saya yang lalu. Tapi, apakah itu hidup yang bermakna?
Gambaran pemerintah seperti ini mungkin dianggap terlalu “lembek”. Pemerintah gagal menciptakan jiwa-jiwa yang kuat dan tahan banting menghadapi segala tantangan hidup.

Saya teringat ketika suatu kali diajak makan di rumah seorang kerabat saya yang juga sudah lama menjadi warga negara Amerika Serikat.
Saya ditanya, kalau di Amerika kamu mau ikut partai yang mana? Saya bilang, “Demokrat.” Dia tertawa. Saya tidak paham apa maksudnya. Lalu dia melanjutkan lagi. “Menurut kamu, siapa presiden Amerika yang baik?” Saya jawab pula, “Jimmy Carter.” Sekali lagi jawaban saya dianggap keliru. Mungkin karena Carter dianggap lembek”. Ketika kantor kedubes AS di Tehran disandera dengan sejumlah diplomat di dalamnya.
Saat itu, di tahun 1999, mahasiswa-mahasiswa Iran berdemonstrasi dan menduduki kantor kedubes AS di Tehran selama 444 hari gara-gara AS mengizinkan Syah Iran yang sudah terguling meninggalkan Iran dan pergi ke New York untuk berobat.
Carter mengusahakan pembebasan keddutaan itu, tapi gagal. Malah para angota militer yang terlibat dalam misi itu tewas semuanya. Baru pada 21 Januari 1991, setelah Presiden Regan mengucapkan pidato pelantikannya sebagai presiden menggantikan Carter, para sandera itu dibebaskan.
Konon di balik itu ada perjanjian antara Reagan dengan para penguasa Iran, bahwa Reagan akan memenuhi tuntutan-tuntutan para demonstran setelah ia menang dan dilantik. Dengan “pertunjukan” seperti ini, Carter tampak sebagai presiden yang lemah, sementara Reagan sebaliknya, di mata para penduduk AS.

Begitulah gambaran orang Indonesia dan afiliasi politiknya di AS. Dibandingkan dengan orang-orang Asia lainnya, memang mereka tampak berbeda. Orang keturunan Jepang umumnya adalah orang Demokrat. Ada banyak senator keturunan Jepang yang berasal dari Hawai. Pengalaman mereka yang dikirim ke kamp konsentrasi di masa Perang Dunia II mungkin menyebabkan mereka selalu curiga kepada pemerintah yang cenderung menabuh gendering perang.
Sebagian orang India mendukung Partai Republik. Ada beberapa politisi India yang keturunan India dan aktif di Partai Republik. Orang-orang keturunan Tionghoa dan Filipina umumnya adalah orang-orang Demokrat.
Nah, kira-kira begitulah gambaran afiliiasi politik orang Indonesia di AS. Singkatnya, mereka lebih menghargai orang-orang yang bisa sukses karena kerja sendiri. Tampaknya itu juga yang menjadi harapan hidup mereka di negara baru Uncle Sam.

Pdt. Em. Stephen Suleeman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post