Di Tengah Para Sahabat (5)




Sekali-sekali perlu juga rasanya bercerita tentang teman saya, seorang asal Indonesia. Namanya Kornelius. Kami bertemu dengannya di gereja Indonesia. Saat itu dia bersama istrinya. Mereka sedang membersihkan aula gereja yang baru saja dipakai untuk makan-makan. Ya, setiap hari Minggu selalu ada makan-makan di gereja itu. Ini adalah cara untuk mengajak hadirin untuk tidak segera pulang, melainkan ngobrol-ngobrol dan berkenalan lebih akrab lagi.

Di situ juga kami berkenalan. Dari situ saya mengetahui, Kornelius dan istrinya Vera, berasal dari Jawa Timur. Surabaya tepatnya Mereka datang dengan rencana untuk. Tinggal selamanya di AS. Caranya, dengan meminta asylum.

Saat kami tiba di sana memang masih banyak orang Indonesia yang datang dan berusaha minta asylum. Saat itu sekitar Juli tahun 2001. Sisa-sisa kasus kerusuhan di Indonesia masih banyak. Orang-orang Indonesia yang datang dan mencari greencard dengan menggunakan alasan kerusuhan di Indonesia masih banyak.

Kornelius mempunyai perusahaan angkutan truk di Mojokerto, dekat Surabaya. Sebetulnya, itu bukan milik dia, tapi keluarganya. Perusahaan truk ini sempat diserang huru-hara. Tidak ada kaitannya dengan kerusuhan anti Tionghoa 1998. Kejadian itu terjadi malah sebelum kerusuhan Mei 1998. Tapi Kornelius menggunakan cerita itu untuk pergi mencari suaka di AS.

Dari cerita kornelius, memang sopirnya itu kurang ajar. Sebagai sopir, dia yang menentukan misalnya kalau ban harus diganti. Begitu juga kalau terjadi pergantian berbagai onderdil lainnya. Sudah tentu, pergantian ini dilakukan atas kewenangan si sopir sendiri. Tapi benarkah begitu kenyataannya?

Orang yang tidak pernah berurusan dengan bisnis angkutan mungkin tidak tahu apa-apa tentang pergantian onderdil dan sebagainya. Tapi Kornelius lama-lama curiga dengan sopirnya. Masa sih pergantian onderdil harus begitu cepat.

Entah bagaimana, kecurigaan Kornelius terbukti dan sang sopir dipecat. Sopir itu marah, lalu mengajak teman-temannya untuk menyerbu bengkelnya. Kasus ini membuat Kornelius akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Sebelumnya tentu saja ia membuat foto-foto tentang kejadian penyerbuan markas truknya. Juga guntingan-guntingan berita surat kabar tentang kejadian itu.

Saat mau berangkat ke AS, Kornelius paham sekali bahwa mendapatkan visa ke AS tidak mudaah. Karena itu ia melakuka perjalanan dahulu keliling ASEAN. Beberapa bulan kemudian, dia melakukan perjalanan ke sejumlah negara di Eropa. Ia mengambil tur yang diselenggarakan oleh sebuah biro perjalanan di Indonesia. Ia pergi bersama Vera, istrinya. Saat itu kebetulan mereka belum punya anak.

Setelah kembali ke Indonesia, beberapa bulan kemudian ia dan Vera meminta visa untuk ke Amerika Serikat. Ketika ditanya oleh Kedubes Amerika di Surabaya, kenapa dia mau ke Amerika? Dia berkata dengan nada sombong., “Kami punya banyak uang. Ngapain uang disimpan-simpan saja? Mumpung masih muda, kami mau jalan-jalan.”

Begitu mendapatkan visa, ia berangkat, dan tiba di San Francisco. Sejak itulah Kornelius menetap di sana. Ia segera mencari pengacara dan mengajukan kasusnya untuk mendapatkan asylum. Untung kasusnya kuat. Cerita-ceritanya juga memang benar dan dapat diverifikasi di surat kabar setempat di Surabaya. Dalam waktu sekitar satu tahun, Kornelius berhasil mendapatkan  izin tinggalnya.

Sementara itu, Kornelius bekerja di perusahaan telepon di daerah San Francisco. Karena ia pandai soal teknologi komputer, dia diberikan pekerjaan untuk menjawab keluhan pelanggan yang bermasalah dengan teleponnya. Untunglah, Kornelius bisa mengarahkan pelanggan-pelangganya untuk membetulkan gangguan telepon mereka sendiri.

Pekerjaan seperti ini rupanya banyak dilemparkan oleh perusahaan telepon ke negara lain, misalnya India. Karena itu Kornelius sering disangka orang India. Itu sering membuat dia kesal dan karenanya dia akan menjawab, “Silakan datang dan temui saya sekarang juga di San Francisco.”

Di luar itu, Kornelius mempunyai kebiasaan yang mumpuni dalam bermain badminton. Karena itu dia melamar menjadi pelatih badminton di sebuah SMA di San Francisco. Kornelius bercerita tentang murid-muridnya yang kebanyakan orang Hmong dari Kamboja.

“Orang-orang Hmong tahunya cuma kawin saja. Lihat saja nanti, selesai SMA, anak-anak perempuannya pasti kawin semua,” kata Kornelius. Ternyata cerita Kornelius benar. Selesai SMA, hampir semua bekas muridnya langsung menikah. Pola pikir dari kampung mereka masih tetap dibawa, walaupun kini mereka tinggal di Amerika.

Kornelius menyewa apartemen di San Francisco yang cukup berbahaya. Setiap hari pasti ada tembak-tembakan di sana, perkelahian antar-gang. Duh, saya tidak akan mau tinggal di perumahan seperti itu. Tapi Kornelius menyukainya. “Lebih murah. Dan aman,” katanya. Aman, karena dijaga oleh gang-gang di sana. Ah, masa sih?

Belakangan saya tahu bahwa Kornelius akhirnya dianugerahi dua orang anak. Mereka kini sudah pindah ke pinggiran kota San Francisco. Semoga lebih aman wilayahnya sekarang.

Pdt. Em. Stephen Suleeman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post