Re-Setting Our Mindset




Saya menduga setiap orang yang membaca warta jemaat versi digital ini memiliki HP. Istilah “Hand Phone” menurut saya adalah contoh sebuah kerancuan istilah yang sudah kadung disepakati benar. HP diterjemahkan “telepon genggam”. Pertanyaannya kan sederhana saja. Apa memang pada umumnya ada telepon yang tidak digengggam ketika mau digunakan? (Saya tidak bicara yang tidak umum). Bukankah semua telepon, bahkan telepon engkol jaman baheula pun kalau mau digunakan ya harus digenggam? Setujukah anda bahwa ketika dibandingkan dengan pesawat telepon konvensional, maka salah satu perbedaannya dengan yang kita sebut HP adalah HP bisa dibawa ke mana-mana dengan mudah karena tidak memerlukan sambungan kabel telepon, menggunakan baterai sebagai sumber daya dan menerima-meneruskan suara atau gambar (gambar tidak bergerak ataupun bergerak) melalui sinyal.
Mari kita lihat beberapa pengertian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Untuk kata telepon ada penjelasan sebagai berikut:

  • telepon/te·le·pon/ /télépon/ n 1 pesawat dengan listrik dan kawat, untuk bercakap-cakap antara dua orang yang berjauhan tempatnya 2 perca- kapan yang disampaikan dengan pesawat telepon
  • engkol, telepon yang cara mengoperasikannya dengan memutar alat seperti engkol sebagai penyambungnya;
  • genggam, telepon dengan antena tanpa kabel yang dapat dibawa ke mana-mana;
  • seluler, telepon mandiri yang menggunakan baterai, tanpa kabel, dan menerima suara melalui sinyal: sekarang sedang dipasarkan — paling kecil dan paling ringan di dunia;

Jadi kalau mengikuti penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia ini menurut saya sepertinya yang paling tepat untuk menyebut nama barang yang satu ini adalah telepon seluler atau disingkat ponsel. Kalau dalam kosa kata bahasa Inggris selain disebut cell phone barang ini juga disebut dengan istilah mobile phone.
Tapi apa mau dikata, kita sudah terlanjur akrab dan terbiasa dengan penyebutan istilah hape (HP). Istilah itu sudah masuk dan melekat dalam benak kita, sudah menjadi bagian dari mindset atau pola pikir kita. Pokoknya begitu melihat barang seperti itu tidak ada kata lain yang terlintas selain hape. Ya sudah lah, hape ya hape. Toh mau disebut apa pun bukan urusan dosa atau tidak.
Mungkin anda juga pernah punya pengalaman hape anda bermasalah. Makin lama makin lemot, kalau pas internetan nyambung-putus nyambung-putus, tahu-tahu mati dan nyala sendiri, dan yang sejenisnya. Lalu kita bawa ke tempat servis. Setelah memeriksa, orang yang menyervis mengatakan: “Wah parah, ini kudu di re-set.” Lalu kita tanya: “Maksudnya apa?” Dia menjawab: “Begini, ini hape pengaturan sistemnya harus dikembalikan lagi ke pengaturan asli dari pabrik. Nanti baru dinstall ulang aplikasi-aplikasi yang diperlukan. Da- ta yang ada kita pindahin dulu.” Nah kalau kita setuju maka hape kita akan di re-set dan yang seterusnya.
Kata reset dalam KBBI Daring (KBBI online) diberi arti set ulang. Kata ini aslinya dari kosa kata bahasa Inggris, reset. Terbentuk dari dua kata: prefiks re yang berarti “ulang” atau “berulang” dan kata kerta to set yang dalam hal ini berarti “mengatur” , “menata”.
Dalam kamus Merriam-Webster kata reset di beri arti:

  1. to set again or anew
  2. to change the reading of often to zero

Maka kalau di dunia “per-hape-an” reset umumnya berarti mengembalikan pengaturan sistem dalam sebuah hape ke pengaturan bawaan dari pabrik, reset yang kita bicarakan dalam tema “Resetting Our Mindset” – Mereset Pola Pikir Kita, lebih dalam pengertian membarui dan bukan mengembalikan ke pola sebelumnya.
Hal ini bagi saya adalah sebuah keniscayaan ketika setengah tahun lebih kita bergumul dengan pandemi Covid 19. Setelah lebih dari setengah tahun kita masih belum juga punya kepastian kapan pandemi ini akan berakhir, apalagi tentang bagaimana kelak gambaran kehidupan yang harus kita jalani pasca pandemi.

Mungkin ada sebagian orang memiliki mindset, pola pikir yang membuat dirinya membayangkan bahwa pasca pandemi semua akan kembali seperti keadaan sebelum masa pandemi. Menjalani keseharian hidup seperti dulu sebelum masa pandemi. Bahwa sekarang perlu ada hal-hal baru yang memang harus dilakukan, ya terpaksa dilakukanlah. Pakai masker ya pakai masker. Jaga jarak ya jaga jarak. Tidak bersalaman dengan bersentuhan ya OK. Kami yang berusia 60 tahun keatas dan anak-anak belum diijinkan ikut kebaktian onsite (kalau nanti sudah boleh dimulai), ya sudah. Tapi tunggu tanggal mainnya. Aku akan mereset lagi pola pikirku, pola hidupku kembali seperti pola sebelum masa pandemi. Hati-hati kalau anda berpikir seperti ini. Mungkin anda bisa sangat kecewa kalau ternyata kehidupan pasca pandemi memang akan sangat berubah, bukan kembali pada pola kehidupan sebelum pandemi, tapi betul-betul akan ada pola kehidupan yang baru yang menuntut, bahkan seharusnya lahir dari perubahan mindset dalam diri kita. Ini yang di- ajak oleh tema artikel ringkas ini untuk kita cermati dengan sungguh-sungguh dan memprosesnya secara sadar dan sepenuh tanggungjawab. “Resetting Our Mindset” bukan urusan mengatur ulang mindset, pola pikir kita, mengem- balikannya seperti pola masa lalu (“settingan pabrik”), tapi benar-benar mem- baruinya. Dengan pola pikir yang baru kita juga membarui pola kehidupan kita.
Itu juga yang dilakukan oleh gereja, dalam hal ini GKI Gading Indah. Sebelum masuk masa pandemi GKI Gading Indah sudah mempersiapkan Rencana Kerja dan Rencana Anggaran Penerimaan-Pembiayaan (RK-RAPP) untuk tahun pelayanan 2020-2021. Semua itu dipersiapkan dengan visi yang berlaku saat itu sesuai situasi-kondisi saat itu dan prediksi setahun ke depan. Tapi sekarang situasi mengalami perubahan yang dahsyat, serba ketidakpastian yang juga membayangi masa depan. Di tengah situasi seperti itu GKI Gading Indah sehati bertekad untuk terus melangkah dalam menjalani hidup persekutuan, pelayanan dan kesaksiannya. Namun tidak bisa lagi dengan mindset, pola pikir yang lama dan yang sama. Maka salah satu langkah awal yang dilakukan adalah proses resetting. Kita mengatur ulang settingan pikiran kita. Kita menyimpan dulu pikiran untuk urusan reopening gereja dengan berbagai kegiatan onsite nya. Yang sekarang dilakukan adalah upaya revisoning dan reshaping. Revisioning sederhananya adalah proses di mana gereja membarui visi (bayangan tentang) keberadaannya sebagai gereja di masa dan pasca pendemi. Majelis Jemaat menjelaskannya sebagai:

  • Menentukan arah “baru” seturut konteks yang berubah.
  • Merumuskan dan memaknai ulang arah, orientasi dari kegiatan-kegiatan GKI Gading Indah. Termasuk memilih, memilah, mengurangi, meniadakan, menambahkan sesuai dengan tantangan kontekstual.
  • Values-based ministry: bukan “strategi” tapi values yang menjadi dasar pelayanan (kasih, kepedulian, dan lain-lain)

Reshaping, sederhananya adalah proses yang dilakukan agar struktur- struktur dalam fungsi pelayanan kepemimpinan di GKI Gading Indah bisa membuat gereja, yakni kita semua, makin efektif dan efisien mengemban tugas panggilan yang Tuhan percayakan kepada kita. Bersediakah kita mereset mindset kita sebagaimana dimaksudkan tulisan ini?

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana- kah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Ronny Nathanael

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post